Mentok, rajabelis.com – Kamis siang, 20 Agustus 2026. Langit di atas Pait, Kecamatan Mentok, tiba-tiba berubah warna. Asap tebal mengepul dari perbukitan, tertiup angin musim kemarau yang kering dan panas. Api sudah mulai merambat, melahap rumput kering dan semak belukar dengan cepat. Tanah yang retak kemarau menjadi bahan bakar yang tak henti-hentinya.
Berita itu sampai ke Markas Kodim 0431/Bangka Barat dengan cepat. Tak butuh waktu lama. Letkol Czi Fadil S.E., M.I.P., Dandim 0431/Bangka Barat, langsung berdiri.
“Kita berangkat sekarang. Biarkan api tidak sempat meluas.”
Ia memimpin langsung anggotanya menuju lokasi. Bukan memerintah dari balik meja tapi berdiri di barisan terdepan. Di tengah perjalanan, terus berkoordinasi dengan unsur terkait, menyusun langkah agar saat tiba di lokasi, semua sudah siap bekerja sama.
Bahu-Membahu di Tengah Asap
Sesampainya di Pait, pemandangan itu nyata. Api menjalar di beberapa titik, panasnya terasa dari jarak jauh. Tanpa banyak bicara, Dandim dan anggotanya langsung turun ke lokasi. Di sana, petugas pemadam kebakaran, aparat setempat, dan warga masyarakat sudah berkumpul. Tanpa perintah panjang, mereka menyatu, bahu-membahu, saling bergantian, saling menutupi kekurangan.
Ada yang memukulkan ranting ke api untuk memadamkan. Ada yang membuat sekat agar api tak menyeberang ke kebun warga. Ada yang membawa air dari sumber terdekat. Dandim sendiri tak berdiri di pinggir memberi arahan saja, ia turun langsung, merasakan panas dan asap yang sama dengan prajuritnya dan dengan rakyatnya.
Setelah api berhasil dikendalikan, pekerjaan belum selesai. Mereka berkeliling, memeriksa setiap jengkal tanah yang sempat terbakar. Melakukan pendinginan, memastikan tak ada bara yang tersisa, tak ada titik api yang sempat tersembunyi dan bisa kembali menyala saat mereka pergi.
Lebih Cepat dari Api
Musim kemarau di Bangka Barat selalu membawa risiko. Tanah kering, angin kencang, dan kadang kelalaian manusia — satu percikan bisa menjadi lautan api dalam hitungan jam. Pemerintah Kabupaten Bangka Barat pun sudah mengingatkan masyarakat: buka lahan tanpa membakar. Tapi kadang api tetap datang, entah dari mana.
Di saat seperti itulah kehadiran TNI menjadi nyata maknanya. Bukan hanya saat perang tapi di saat rakyat menghadapi bencana.
“Kami akan terus mengedepankan langkah cepat dan koordinasi dengan seluruh unsur terkait dalam setiap kejadian kebakaran lahan. Penanganan sejak dini sangat penting agar api tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat maupun lingkungan,” ujar Letkol Fadil setelahnya, tegas dan tenang.
Pesan di Balik Asap
Kodim 0431/Bangka Barat juga menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat:
– Tingkatkan kewaspadaan di tengah musim kemarau
– Jangan membakar lahan secara sembarangan, satu percikan bisa menghanguskan hutan dan kebun bersama
– Jika melihat api atau asap, segera laporkan kepada aparat atau instansi terkait, semakin cepat diketahui, semakin mudah dipadamkan
Kegiatan pemadaman di Pait itu berakhir dengan selamat. Tidak ada korban jiwa, tidak ada rumah yang terbakar. Semua itu bukan kebetulan itu hasil kerja sama. Sinergitas antara TNI, pemerintah daerah, petugas pemadam, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi kunci.
Penutup
Di sore itu, asap perlahan hilang dari langit Mentok. Bekas hitam di tanah menjadi pengingat bahwa api bisa datang kapan saja. Tapi yang lebih kuat dari api itu adalah kesigapan — kesigapan Dandim yang turun langsung, prajurit yang tak ragu, dan warga yang saling membantu.
Karena di bumi yang kita tinggali, yang paling ampuh memadamkan api bukanlah air semata melainkan tangan-tangan yang saling bergandengan, lebih cepat dari nyala api itu sendiri.
Sumber: Pendim 0431/Bangka Barat
Lokasi: Pait, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat
Diteruskan Berita Terkait
Tim URC Polres Bangka Barat Tangkap Terduga Pelaku Curat, Mesin Tempel dan Perkakas Disita