Skip to content

Gurita narkoba di balik blok A Bagaimana Sahlan Menjinakkan Lapas kelas II A Pangkalpinang

admin July 23, 2026

Pangkalpinang — Tembok tebal, kawat berduri, dan penjagaan ketat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tuatunu ternyata hanya dekorasi kosong.

Di dalam sel pengap Blok A,kebebasan sejati justru milik Sahlan dari balik jeruji besi yang seharusnya menjadi tempat pertobatan,narapidana ini dengan leluasa mengendalikan imperium gelap bisnis narkotika, membuktikan betapa ringkihnya benteng pertahanan hukum kita di bawah kendali uang dan teknologi selundupan.

Investigasi kami mengungkap bahwa jeruji besi sama sekali tidak mengisolasi Sahlan Bermodalkan telepon genggam dengan nomor 08**4**1**51, ia aktif mengoordinasikan pengiriman,menentukan titik jemput paket sabu,hingga memverifikasi pembayaran Di luar penjara,rantai bisnis ini disokong oleh rekening Bank Jago bernomor 10**7*6*3*3* atas nama Gita Novalina sebuah wadah penampung uang haram hasil keringat para pecandu yang mengalir deras tanpa terdeteksi sistem pengawasan lapas.

Jalur Komunikasi Tanpa Sekat bagaimana bisa seorang narapidana mengantongi ponsel pintar aktif di area steril seperti Blok A?Pertanyaan mendasar ini menelanjangi bobroknya sistem keamanan Lapas Tuatunu.

Ponsel bernomor 08**4**1**51 tersebut bukan sekadar alat komunikasi, melainkan “remot kontrol” yang menggerakkan kurir-kurir di jalanan Pangkalpinang dan sekitarnya.

“Mereka tidak perlu bertemu fisik cukup lewat aplikasi pesan singkat,Sahlan memberi perintah,mengirim peta lokasi,dan transaksi selesai,” bisik seorang sumber di lingkaran dalam  yang mengetahui sepak terjang jaringan ini.

Menurutnya, koordinasi dari dalam lapas justru dinilai lebih aman oleh para bandar karena meminimalkan risiko tertangkap tangan oleh polisi di lapangan Sahlan mengoperasikan bisnisnya dengan dingin.

Ia memanfaatkan celah lemahnya razia internal lapas yang kerap kali bocor sebelum dimulai seorang mantan warga binaan Lapas Tuatunu membenarkan praktik culas ini.

“Razia itu sering kali hanya sandiwara formalitas kalau mau aman,ada harganya HP bisa masuk lewat berbagai celah,dari penyelundupan bahan makanan sampai jasa oknum petugas yang matanya sudah dibutakan oleh setoran,” ujarnya dengan nada sinis.

Aliran Uang Digital ke Rekening “Gita Novalina”Sebuah bisnis haram tidak akan berjalan tanpa pelumas finansial dalam pusaran kasus Sahlan,nama Gita Novalina muncul sebagai figur kunci dalam pencucian uang hasil transaksi narkoba tersebut.

Rekening Bank Jago  miliknya menjadi muara akhir dari setiap gram sabu yang terjual di jalanan penggunaan bank digital seperti Bank Jago menunjukkan bahwa jaringan Sahlan tidak lagi menggunakan cara-cara konvensional yang mudah diendus.

Transfer instan, kemudahan pembukaan rekening secara daring dengan identitas palsu atau pinjaman, menjadi senjata utama mereka untuk mengaburkan asal-usul uang.

Setiap kali transaksi narkoba disepakati melalui nomor ponsel Sahlan,pembeli diwajibkan menyetor uang ke rekening atas nama Gita Novalina tersebut sebelum barang haram diletakkan di lokasi yang ditentukan.

“Sistem pembayaran digital ini membuat perputaran uang menjadi sangat cepat dan dinamis,” kata seorang pengamat pencucian uang dari lembaga pemantau korupsi independen.

Ia menegaskan bahwa pihak bank dan otoritas terkait seharusnya memperketat pengawasan terhadap rekening-rekening yang menunjukkan aktivitas transaksi mencurigakan dengan frekuensi tinggi dan nominal yang tidak wajar dari profil pemiliknya.

Menanti Taring Kalapas dan Aparat Penegak Hukum Sistem yang membusuk dari dalam ini tidak boleh dibiarkan terus berjalan keberadaan Sahlan di Blok A Lapas Tuatunu yang tetap bisa berbisnis narkotika adalah tamparan keras bagi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM.

Publik kini menuntut tindakan nyata, bukan sekadar rilis pers diplomatis yang berjanji akan melakukan “penyelidikan mendalam.”Hingga laporan ini diturunkan, pihak Lapas Tuatunu belum memberikan jawaban memuaskan terkait bagaimana ponsel pintar dan akses perbankan digital bisa dioperasikan dengan begitu bebas dari dalam sel mereka.

Satu hal yang pasti: selama Sahlan masih memegang ponsel dan rekening Gita Novalina tetap aktif menampung aliran dana, maka penjara Tuatunu tidak lebih dari sekadar kantor cabang aman bagi kartel narkoba untuk terus merusak generasi bangsa tanpa takut tersentuh hukum***Tim WRC Macanputih

Diteruskan Berita Terkait

Share: