Skip to content

Mahasiswa Doktoral UPI Y.A.I Dorong Penguatan Mental Keluarga Anak Berkebutuhan Khusus di Palembang

admin July 23, 2026

PALEMBANG – Penguatan kesehatan mental keluarga menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus (ABK). Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I (UPI Y.A.I) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk The Power of Mind di Sekolah Inklusi Bina Asih Palembang pada 18 Juli 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi pendalaman materi dan diskusi interaktif di Hotel Winer Palembang pada 19 Juli 2026.

Kegiatan yang diikuti orang tua anak berkebutuhan khusus, guru, dan pemerhati pendidikan inklusif itu menghadirkan narasumber H. Muhammad Dian Anwar, Sainudin, M. Ifan Fauzi, Hardina, Syafiq, dan Asiawatie. Seluruh narasumber merupakan mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I. Asiawatie juga merupakan Pembina Yayasan Bina Asih Palembang.

Mengangkat tema The Power of Mind, kegiatan tersebut mengajak peserta memahami pentingnya membangun pola pikir positif sebagai dasar dalam membentuk sikap, perilaku, serta ketahanan mental keluarga. Para peserta juga diajak berdialog mengenai peran keluarga dan sekolah dalam mendukung perkembangan anak berkebutuhan khusus.

H. Muhammad Dian Anwar mengatakan setiap perubahan berawal dari cara seseorang mengelola pikirannya. Menurutnya, pikiran yang dipenuhi sugesti positif akan melahirkan sikap dan tindakan yang positif dalam kehidupan sehari-hari.

“Pikiran adalah pusat kendali kehidupan. Apa yang terus kita tanamkan dalam pikiran akan memengaruhi cara kita bersikap, berbicara, mengambil keputusan, hingga memperlakukan orang lain. Ketika kita membangun sugesti yang positif, maka energi positif itulah yang akan lahir dalam kehidupan kita. Anak-anak istimewa pun akan berkembang lebih optimal ketika mendapatkan dukungan dengan cara yang tepat dari keluarga dan lingkungannya,” ujar Dian.

Sainudin mengatakan penguatan mental keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pendidikan inklusif. Menurutnya, setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang menerima, menghargai, serta memberikan kesempatan sesuai dengan potensi yang dimiliki.

“Pendidikan inklusif bukan sekadar membuka akses belajar bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi membangun budaya yang menghargai setiap anak tanpa diskriminasi. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan pendidikan yang benar-benar inklusif,” kata Sainudin.

Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat, dengan menghadirkan ilmu psikologi yang aplikatif dan bermanfaat bagi keluarga.

Sementara itu, M. Ifan Fauzi mengingatkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga.

“Sekolah bukan pabrik yang menghasilkan produk jadi. Orang tua tidak bisa menyerahkan seluruh proses pendidikan kepada sekolah, apalagi bagi anak berkebutuhan khusus. Pendampingan di rumah, kasih sayang, dan kolaborasi dengan guru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pendidikan anak,” ujar Ifan.

Hardina menilai kesejahteraan psikologis orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pendampingan anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, orang tua yang memiliki ketahanan mental akan lebih siap menghadapi tantangan sekaligus menciptakan lingkungan pengasuhan yang sehat.

Syafiq menambahkan bahwa peningkatan literasi mengenai kesehatan mental dan penguatan keluarga perlu terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat. Edukasi yang berkelanjutan dinilai mampu memperkuat kapasitas orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak sesuai kebutuhan dan potensinya.

Pembina Yayasan Bina Asih Palembang, Asiawatie, mengapresiasi kolaborasi yang dibangun bersama mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I dalam memberikan edukasi kepada orang tua anak berkebutuhan khusus.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Orang tua membutuhkan ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan. Kehadiran akademisi melalui pengabdian kepada masyarakat memberikan manfaat nyata bagi keluarga sekaligus memperkuat komitmen kami dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang berkualitas,” ujar Asiawatie.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti seminar, diskusi interaktif, dan sesi berbagi pengalaman mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan pengalaman yang dibagikan, mulai dari pola asuh, komunikasi dalam keluarga, hingga strategi membangun lingkungan yang mendukung perkembangan anak.

Melalui kegiatan The Power of Mind, para mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I berharap pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi jembatan antara pengembangan keilmuan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Penguatan kesehatan mental keluarga, peningkatan peran orang tua, dan kolaborasi dalam pendidikan inklusif diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan layanan pendidikan yang ramah, setara, dan berorientasi pada potensi setiap anak***Tim/red

Diteruskan Berita Terkait

Share: